logo
DONASI

Oleh – oleh Istimewa dari Masjid Jogokariyan

Oleh : Erfani

7 September 2019, tepatnya jam 15.30  rombongan kami sampai di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Masjid ndeso percontohan di Indonesia.

Menjawab rasa penasaran, usai sholat kuperhatikan bagian dalam Masjid. Tak ada yang istimewa, ruang sholat kisaran 9×9 m2, lantainya beralas karpet biru dengan tulisan Masjid Jogokariyan. Bagian luar terdapat parkiran yang juga tak terlalu besar, daya tampung kira-kira 50 sepeda motor. Madingnya juga biasa-biasa aja.

Yang membedakan Masjid ini dengan masjid pada umumnya, beberapa kotak infaq masing-masing ada namanya, berdasarkan pengamatan kami setidaknya ada 5 kotak, 3 kotak masing-masing diberi nama : infaq shubuh, infaq sego jumat dan infaq parkir, sedangkan 2 kotak lagi kosongan tapi sepertinya ada sisa sobekan kertas, mungkin penggunaannya bergantian sesuai kebutuhan.

Sesuai dengan tujuan semula, niatku ketempat ini dalam rangka mencari informasi terkait prosedur study banding dan cara mendatangkan narasumber dari masjid ini.

Kulangkahkan kaki menuju kantor sekretariat yang letaknya persis dibelakang Masjid. Sayang tak satupun pengurus kujumpai, hingga beberapa saat kemudian tampak laki-laki muda membuka pintu dari salah satu ruangan.

“Nyuwun sewu mas, kalau mau ketemu dengan takmir masjid dimana ya?,” tanyaku singkat, “maaf pak, semua pengurus baru keluar, Insya Allah menjelang Maghrib sudah datang,” jawab pemuda itu”, “wah.. bisa lama ini”, gumamku saat itu, “kalau kartu nama yang bisa dihubungi ada mas”, tanyaku lagi, “sebentar ya pak”, jawab  laki-laki itu sambil menuju ruangan, tak lama kemudian pemuda itu memberikan secarik kartu nama kepadaku, “niki pak, nanti bisa menghubungi nomor itu” katanya, ” oh njih makasih mas”, jawabku, dengan nada rendah dan bergegas menuju rombongan yang sedang menikmati sego kucing dibelakang sekretariat.

Sampai di warung sego kucing, kuambil sebungkus nasi seraya memesan jeruk hangat.

Singkat cerita, terjadilah diskusi ringan dengan sang penjual, namanya pak Kembar, orangnya masih muda kisaran 40 tahunan,  menurut pengakuannya, beliau jualan disini sudah tujuh (7) tahun lamanya. Selain berjualan kadang-kadang ia membantu sebagai relawan jika ada kegiatan di Masjid, salah satunya Idul Adha kemarin.

Pak kembar adalah salah satu jamaah yang mendapatkan manfaat dari program Masjid Jogokariyan, yaitu program ATM beras, program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan jamaah yang ekonominya pas-pasan, ATM beras bisa digunakan untuk mengambil beras yang jumlahnya dua (2) liter per Kepala Keluarga (KK) dengan jatah pengambilan 1 pekan  sekali.

Pengambilan beras harus sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh takmir, selain itu, mereka tidak diperkenankan. Dalam satu bulan setidaknya 40 Kg beras didistribusikan kepada warga yang kurang mampu atau setara dengan uang 4 juta rupiah bersumber dari infaq jamaah.

Ditanya tentang program ATM beras, pak Kembar menyampaikan kesannya ” alhamdulillah banyak masyarakat yang terbantu, selain mendapatkan beras kami juga dikasih sembako satu bulan sekali,” ujarnya dengan perasaan senang.

Nah…
Penasarankan. Masih banyak lagi keunikan Masjid ini, diantaranya jamaah Sholat Shubuh layaknya Sholat Jum’at, saldo Masjid harus nol rupiah, setiap barang yang hilang akan diganti dengan merk dan harga yang sama, dan masih banyak lagi tentunya.

Mau meniru Masjid ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *