Di atas bukit hijau yang asri, dibalik rimbunnya pohon bambu yang tinggi meliuk-liuk, berdiri tegak sebuah batu besar. Sisi bagian barat terhampar luas danau yang membentang diapit empat Kecamatan. Bukit itu, kini banyak disinggahi pelancong dari berbagai tempat.
Tak jauh dari batu besar itu, tinggallah tiga orang musafir bernama Mertotolo, Sukmotolo dan Mertoloyo. Mereka tinggal di sebuah gubuk sederhana dibawah pohon Asem yang rindang, berdinding kayu papan beratapkan anyaman blarak pohon kelapa. Gubuk itu menjadi tempat berlindung dari teriknya matahari dan juga hujan, serta dari ganggunan binatang buas yang mengancam. Hampir setiap hari liukan ular mematikan menjadi pemandangan.
Pagi itu seperti biasa Mertotolo bersama Mertoloyo mencari kayu bakar, keduanya kompak mengumpulkan beberapa ranting kering yang sudah pisah dari pohonnya. Di tempat terpisah Sukmotolo mengambil beberapa jenis makanan dari ladang yang mereka tanam. Pekerjaan itu berlangsung setiap hari sejak matahari terbit hingga sore menjelang matahari terbenam. Sedangkan malam hari mereka beristirahat, memulihkan tenaga yang telah terkuras seharian agar esok bisa bekerja kembali.
Suatu ketika datanglah seorang Raja beserta prajuritnya
melewati sebuah bukit, belum diketahui
pasti asal usul Raja tersebut, menurut Wasiyem, sesepuh kampung yang usianya diatas 100 tahun, mereka merupakan
rombongan kerajaan yang hendak melakukan perjalanan ke suatu tempat. Berhubung hari sudah mulai gelap Ia memutuskan untuk beristirahat di tempat itu, tepatnya di dekat sebuah batu besar yang kini dikenal dengan sebutan Watu Gede. Tingginya melebihi ukuran manusia
berada di sebelah kiri jalan setapak
yang dilalui.
Karena tidak ada alas untuk duduk dan beristirahat Ia memerintahkan para prajurit untuk memecahkan batu tersebut. Salah satu prajurit memukul batu itu dengan alat yang mereka bawa.
“Prakkh…”
Dentuman suara terdengar keras namun batu tetap utuh.
Dipukulnya batu itu untuk kedua kalinya dengan ayunan yang lebih kuat. “Prakkh…”
Dentuman suara terdengar lebih keras, namun batu tetap masih utuh.
Untuk ketiga kalinya batu itu dipukul Kembali dengan ayunan yang lebih kuat. “Prakkh…”
Batu itu tetap tidak bergeming sedikitpun.
Mendengar dentuman suara keras berasal dari atas bukit, Mertotolo dan kedua rekannya beranjak dari tempatnya menghampiri sumber suara, naik ke atas bukit diantara semak belukar yang belum terjamah manusia. Dari kejauhan tampak rombongan berpakaian kerajaan dan bersenjata lengkap bergerombol di dekat batu.
Dengan perasaan takut mereka mengintip dibalik pohon besar. “Apa yang mereka lakukan?” Tanya Mertotolo penasaran.
“Entahlah, sepertinya mereka dari kerajaan.” Sahut Mertoloyo menduga-duga.
Khawatir terjadi sesuatu mereka kembali ke tempat semula dan berniat melihatnya kembali esok hari.
Di sisi lain sang Raja masih heran bukan kepalang atas apa yang baru saja dilihatnya.
Matanya terbelalak memandang batu perkasa itu.
“Baru kali ini Aku menyaksikan batu sekuat ini.” Gumamnya
seraya meletakkan jari telunjuk ke pipi
kanannya.
Perlahan hari mulai gelap, mentari mulai terbenam di ufuk barat menandakan malam segera tiba, suara jenggaret yang sejak sore terdengar samar kini semakin ramai bak ajang perlombaan yang saling bersahutan.
“Huuuah, rasanya ngantuk, malam ini Aku akan beristirahat dahulu.”
Ia menjatuhkan dirinya diantara tumpukan semak yang telah dipersiapkan, sementara beberapa orang prajurit berjaga-jaga saling bergantian untuk melindungi mereka dari serangan binatang buas yang bisa datang kapan saja.
Malam semakin larut, bulan mulai terlihat jelas dari kejauhan, bentuknya bulat utuh dengan cahaya terang kuning keemasan menerangi birunya langit yang cerah. Di tengah keheningan malam, seorang prajurit yang tengah berjaga dikejutkan oleh seklebatan benda terbang di hadapannya.
“Benda apakah itu?”
Kedua matanya memperhatikan dengan seksama seraya menepuk teman disebelahnya. “Hai, lihat itu. Ada yang terbang ke arah sana,” ujarnya sambil menunjuk arah terbang
benda itu.
Kedua matanya memperhatikan arah keluarnya benda tersebut hingga pandangannya tertuju pada sebuah batu besar yang sore tadi hendak dipecahkan. Tak lama kemudian muncul segerombolan angsa dalam jumlah yang banyak, warnanya kuning keemasan terbang ke arah barat.
“Rupanya mereka terbang ke arah barat menuju sebuah danau.”
Bisiknya perlahan agar tidak membangunkan sang Raja. Danau tersebut adalah Danau Rawa Pening yang terletak di sebelah barat Desa Lopait.
Keesokan hari, prajurit yang menyaksikan peristiwa tersebut
menceritakan kejadian yang dialami
kepada sang Raja.
Mendengar hal itu Ia memutuskan untuk meninggalkan tempat
yang baru saja disinggahi dan berpesan agar tidak mengambil barang apapun dari tempat itu.
Sebelum pergi Ia meminta para prajurit menyiapkan sarapan pagi, rupanya bekal yang mereka bawa telah habis malam itu, sementara perut mereka bernyanyi menahan lapar. Hanya tersisa air putih beberapa teguk.
Di tempat yang masih asing sang Raja memerintahkan para prajurit mencari apa saja dari jenis tumbuhan dan hewan yang bisa disantap pagi itu. Ia membagi dua kelompok untuk mencari makanan, Sebagian kearah utara sementara lainnya kearah selatan melewati pepohonan yang rimbun.
Sekian lama mencari tak satupun jenis makanan dijumpai. Rasa lapar yang mendera tak menyurutkan langkah dalam mencari. Menerobos semak belukar, menelusuri sungi kecil, menyibak rumput yang tumbuh liar di tempat itu. Berulang kali jari mereka terluka akibat duri yang tersingkap. Usaha demi usaha terus dilakukan tapi gagal mereka temukan.
Di saat hampir putus asa dan hendak kembali, mereka melihat sebuah pohon besar dengan buah bergelantungan lebat diantara batang-batangnya. Besarnya seukuran biji kelereng berwarna-warni, sebagian berwarna merah, lainnya berwarna ungu, kuning dan hijau muda. Menurut penduduk setempat buah itu bernama buah Lo, sekarang sudah tidak ditemukan lagi.
Tanpa menunggu lama mereka menghampiri pohon tersebut, memetik beberapa biji dan membawakannya kepada sang Raja yang sudah menanti sejak tadi.
Dengan wajah tersenyum bahagia sang Raja menyambut prajurit yang datang membawakan sebungkus makanan. Tangan kanannya mengambil satu buah dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Cuh… loh, kok pahit.”
Mulutnya reflek mengeluarkan buah yang baru saja digigitnya. “Buah apakah ini? Rasanya kok pahit.” Katanya.
Di hadapan para prajurit Ia berkata jika suatu saat nanti disini
ada penduduk, maka akan menamainya dengan nama Lopait.
Ucapan sang Raja ternyata di dengar oleh Mertotolo dan kedua rekannya yang mengintai dibalik pohon bambu karena takut dan segan untuk menyapa. Atas peristiwa itu Ia dan kedua rekannya sepakat menggunakan nama Lopait pasca kepergian rombongan kerajaan tersebut.
Sementara, Mertotolo dan kedua rekannya hinga akhir hayatnya menetap di kampung tersebut. Ketiganya menjadi cikal bakal Desa Lopait yang kini makamnya berada di makam Sewuni, makamnya bersebelahan satu sama lainnya. Untuk mengenang jasa-jasanya, penduduk mengadakan Haul setiap malam 1 Syuro/1 Muharram.
Setelah kejadian itu sang Raja beserta rombongan melanjutkan perjalanan ke suatu tempat dengan membawa semua barang bawaan. Lantaran barang terlalu banyak sementara perut menahan lapar, di tengah perjalanan rombongan memutuskan untuk meninggalkan sebagian barang bawaan kedalam sebuah peti terkunci dan menyimpan kuncinya.
Konon, peti tersebut berisi benda-benda pusaka kerajaan, sementara kuncinya dipercaya berada di sebuah Watu Lumpuk di daerah Pabelan. Menurut Sunarjito, putra bungsu alm. Mbah Juli selaku juru kunci terakhir. Suatu saat nanti akan lahir seorang anak dari seorang ibu tanpa ayah dekat Watu Gede yang akan mengambil kuncinya.
Penulis: Erpani, A.Md (Sekretaris Desa Lopait)